Minggu, 03 April 2016

PAPER PENGENDALIAN HAMA ULAT KANTUNG

PENGENDALIAN HAMA ULAT KANTUNG (Mahasena corbetti Tams.) 
PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
PAPER

OLEH:
TRISAN REINHARD PURBA
150301195
AGROEKOTEKNOLOGI-4B




L A B O R A T O R I U M    D P T – S U B    H A M A
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
F A K U L T A S          P E R T A N I A N
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA
2016


KATA PENGANTAR
            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan rahmatnya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya.

            Adapun judul dari paper ini adalah “Pengendalian Hama Ulat Kantung (Mahasena corbetti Tams.) Pada Tanaman  Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)yang merupakan salah satu syarat untuk memenuhi komponen penilaian di Laboratorium DPT-Sub Hama Program Studi Agroekoteknologi Fakults Pertanian Universitas Sumatra Utara, Medan.

           Penulis juga mengucpkan terima kasih kepada orangtua penulis yang selalu memberikan doa dan dukungan, begitu juga kepada dosen pengajar mata kuliah Dasar Perlindungan Tanaman-Sub Hama yaitu Ir.Marheni, M.P. beserta abang dan kakak asisten yang telah membantu dalam menyelesaikan paper ini.
            Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kita semua.





                                                                                                        Medan,    Maret 2016


                                                                                       Penulis         

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
            Latar Belakang
            Tujuan Penulisan
            Kegunaan Penulisan
TINJAUAN PUSTAKA
            Botani Tumbuhan
            Hama
PENGENDALIAN HAYATI HAMA ULAT KANTUNG (Mahasana corbetti Tams.) PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
            Pengertian Pengendalian Hayati
            Macam-Macam Pengendalian Hayati
            Jenis Pengendali Hayati Yang Digunakan
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN



PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Secara harafiah, perlindungan adalah sesuatu yang diberikan untuk melindungi sesuatu atau seseorang yang tak kuat atau lema terhadap suatu ancaman atau gangguan yang dapat merusak, merugikan, atau mengganggu proses hidupnya yang normal kalau kita kaitkan dengan tanaman yang diusahakan, berarti memberikan perlindungan kepada tanaman yang ditanam agar ia tidak rusak oleh suatu gangguan sehingga ia tidak normal lagi dan dengan sendirinya hasil produksinya juga tidak normal (Djafaruddin,1996).
            Ada beberapa jasad pengganggu pada tanaman yang dapat menyebabkan kehilangan hasil,diantaranya hama, penyakit dan gulma. Hama adalah semua hewan vertebrata atau invertebrate yang menhuni ruang hidup, memakan dan melakukan fungsi fisiologisnya pada suatu tempat yang tidak kita kehendaki karena berbagai alasan (Marheni,2016).
Berdasarkan klasifikasi hamapengganggu tanaman, dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran tubuh, yaitu mamalia (babi hutan, burung), rodentia (tikus sawah, tupai), anthropoda (serangga/insekta, ulat), nematoda (ulat tanah, cacing) (Embriani,2014).
Budidaya tanaman monokultur dapat mendorong ekosistem pertanian rentan terhadap organisme serangga hama. Salah satu pendorong meningkatnya serangga pengganggu adalah tersedianya makanan terus menerus sepanjang waktu dan di setiap tempat. Untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan maka tindakan mengurangi serangan hama melalui pemanfaatan musuh alami serangga dan meningkatkan keanekaragaman tanaman seperti penerapan tumpang sari, rotasi tanaman dan penanaman lahan-lahan terbuka sangat perlu dilakukan karena meningkatkan stabilitas ekosistem serta mengurangi resiko gangguan hama (Tobing,2009).
Perkebunan kelapa sawit adalah perkebunan monokultur yang rentan terhadap serangan hama. Pengetahuan mengenai perilaku, perkembangan dan sifat-sifat biologi spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman kelapa sawit dan musuh alaminya masih sangat terbatas, sehingga metode upaya pengendalian populasi serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman kelapa sawit belum tersusun secara komphrehensif (Anggraitoningsih,2012).

Tujuan Penulisan
Tujuan dari paper ini adalah untuk mengetahui cara pengendalian hayati hama ulat kantung (Mahesana corbetti Tams.) pada tanaman                                               kelapa sawit (Eleis guneensis Jacq.).

Kegunaan Penulisan
Kegunaan dari penulisan paper ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memenuhi komponen penilaian di Laboratorium DPT-Sub Hama Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara dan sebagai sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

  
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guneensis Jacq.)
            Klasifikasi tnaman kelapa sawit adalah sebagai berikut : Kingdom: Plantae; Devisi: Tracheopita; Kelas: Angiospermae; Ordo: Palmales; Famili: Palmaceae; Genus: Elaeis; Spesies: Elaeis guineensis Jacq. (Sugito,1992).
Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman monokotil, yaitu batangnya tidak mempunyai kambium dan umumya tidak bercabang. Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter 45-60 cm. Tanaman yang masih muda, batangnya tidak terlihat karena terlindung oleh pelepah daun, tinggi batang bertambah 35-75cm/tahun, tapi jika kondisi lingkungan yang sesuai maka pertambahan tinggi batang dapat mencapai 100 cm per tahun dan tinggi maksimum yang ditanam di perkebunan adalah 15-18 meter. Akar tanaman kelapa sawit berbentuk serabut, tidak berbuku, ujungnya runcing dan berwarna putih atau kekuningan. Perakaran kelapa sawit sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, sekunder, tertier dan kuarter. Sistem perakaran paling banyak ditemukan pada kedalaman 0 sampai 20 cm, yaitu pada lapisan olah tanah (top soil). Daun kelapa sawit membentuk susunan daun majemuk, bersirip genap dan bertulang sejajar serta membentuk satu pelepah yang panjangnya mencapai 7.5-9 meter. Jumlah anak daun pada setiap pelepah berkisar antara 250 sampai 400 helai (Fauzi et al,2004).
Kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu (monocious), artinya bunga jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman dan masing-masing terangkai dalam satu tandan. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan bunga betina. Setiap rangkaian bunga muncul dari pangkal pelepah daun. Rangkaian bunga jantan dihasilkan dengan siklus yang berselang seling dengan rangkaian bunga betina, sehingga pembungaan secara bersamaan sangat jarang terjadi. Umumnya di alam hanya terjadi penyerbukan silang, sedangkan penyerbukan sendiri secara buatan dapat dilakukan dengan menggunakan serbuk sari yang diambil dari bunga jantan dan ditaburkan pada bunga betina. Waktu yang dibutuhkan mulai dari penyerbukan hingga buah matang dan siap panen kurang lebih 5-6 bulan (Fauzi et al,2004)
Buah kelapa sawit terdiri dari dua bagian utama yaitu bagian pertama adalah perikarpium yang terdiri dari eksokarpium (kulit buah) dan mesokarpium (daging buah berserabut), sedangkan bagian yang kedua adalah biji, terdiri dari endokarpium (tempurung), endosperm (kernel) dan embrio. Menurut Yahya (1990), buah sawit yang masih mentah berwarna ungu atau hijau karena mengandung antosianin, sedangkan mesokarp buah yang masak mengandung 45-60% minyak (edible) yang berwarna merah-jingga karena mengandung karoten. Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah 20-22 tandan per tahun. Untuk tanaman yang semakin tua produktivitasnya akan menurun menjadi 12-14 tandan per tahun. Pada tahun pertama berat tandan buah sawit berkisar 3-6 kg per tandan, tetapi semakin tua berat tandan semakin bertambah yaitu 25-35 kg per tandan. Banyaknya buah yang terdapat pada satu tandan tergantung pada faktor genetis, umur, lingkungan, dan teknik budidaya. Jumlah buah per tandan pada tanaman yang cukup tua mencapai 1600 buah, panjang buah antara 2-5 cm dan berat sekitar 20-30 kg per buah (Fauzi et al., 2004).

Ulat Kantung (Mahasena corbetti Tams.)
   
Klasifikasi ulat kantung yaitu : Kingdom : Animalia; Filum : Arthropoda; Kelas : Insecta; Ordo : Lepidoptera; Famili : Psychidae; Genus : Mahasena;Spesies : Mahasena corbetti Tams. (Rozziansha,dkk, 2011).
Hama ini menyerang daun pada semua tingkat umur tanaman. Larva hidup di dalam kantong yang terbuat dari potongan dedaunan diikat dengan benangbenang dari air liurnya. Bentuk kantungnya kasar dan tidak teratur, berwarna cokelat kemerahan (Rozziansha,dkk, 2011).
Larva muda berada di permukaan atas daun, selanjutnya merambat ke permukaan bawah daun. Serangan biasanya pada daun-daun bagian atas. Telur berwarna kuning pucat dan berbentuk oval. Telur akan menetas setelah 16-18 hari. Jumlah telur yang dihasilkan betina sekitar 1000-3000 butir (Wood, 1968; Syed, 1972;Sudharto, 1990).
 Mengalami fase perkembangan sampai 12-13 instar. Larva yang baru menetas makan dan membuat kantung dari daun kering yang berasal dari kantung induk betina. Panjang tubuh larva instar I sekitar 3-5mm, instar II sekitar 5-10mm, instar III sekitar 10-15mm, instar IV sekitar 15-20mm, instar V sekitar 20-25mm, instar VI sekitar 25-30mm, instar VII sekitar 30-35mm, instar IX sekitar 35-40mm, instar X sekitar 40-45mm, instar XI dan instar XII sekitar 45-50mm. Larva instar awal sangat aktif makan pada instar I sampai instar III dan larva sedang (IV sampai dengan VII). Ukuran panjang kantung jantan dapat mencapai 30mm, sedangkan betinanya 50mm (Ramlah,2007).
Ukuran pupa jantan lebih kecil daripada betina. Panjang pupa jantan lebih pendek dibandingkan betina (± 30mmvs ±50 mm) (Sudharto, 1990). Pupa seperti tumpukan potongan daun yang tidak teratur. Masa pupasi mencapai 30 hari. Pupa menggantung pada permukaan bagian bawah daun           (Rozziansha,dkk, 2011).
Jantan akan menjadi imago ngengat. Ngengat jantan berupa kupu-kupu berwarna cokelat, rentang sayapnya 30 mm dan dapat hidup kurang dari 3 hari. Betina ulat kantung dewasa tanpa sayap, dan menghabiskan seluruh hidupnya di dalam kantung (Sudharto, 1990).
Siklus hidup dari telur sampai dengan pupa berlangsung selama empat bulan atau 120 hari yang terdiri dari stadium telur selama 18 hari, stadium larva terdiri dari 11 - 12 instar selama 75 - 82 hari, kemudian dilanjutkan dengan stadium pupa selama 30 hari (Ramlah et al ., 2007)
Serangan yang ditimbulkan oleh pada daun kelapa sawit terlihat seperti berlubang, kemudian melidi dan mengering (Gambar 3). Pada larva instar awal bagian yang dimakan adalah bagian epidermis atas daun, sedangkan untuk larva instar akhir, bagian yang dimakan adalah epidermis bawah (Susanto, 2010).
Pengendalian ulat kantung dapat dilkukan dengan cara pengendalian haayati yaitu penggunaan tanaman bermanfaat, pengendalian fisik yaitu dengan pengutipan larva dan pengendalian kimiawi dengan penyemprotan asefat dan dimehipo (Rozziansha,dkk, 2011)





PENGENDALIAN HAYATI HAMA ULAT KANTUNG (Mahasena corbetti Tams.) 
PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
Pengertian Pengendalian Hayati
Pengendalian hayati adalah pengendalian serangga hama dengan cara biologi, yaitu dengan memanfaatkan musuh-musuh alaminya (agen pengendali biologi), seperti predator, parasit dan patogen. Pengendalian hayati adalah suatu teknik pengelolaan hama dengan sengaja dengan memanfaatkan/memanipulasikan musuh alami untuk kepentingan pengendalian, biasanya pengendalian hayati akan dilakukan perbanyakan musuh alami yang dilakukan dilaboratorium. Sedangkan Pengendalian alami merupakan Proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa campur tangan manusia, tidak ada proses perbanyakan musuh alami. Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didifinisikan sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alam hingga kepadatan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian (Sunarno,2008).
Pengendalian hayati dalam pengertian ekologi didifinisikan sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alam hingga kepadatan populasi organisme tersebut berada dibawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian (Sunarno,2008).
Macam Pengendalian Hayati
            Sebagai bagian dari komonitas, setiap komonitas serangga termasuk serangga hama dapat diserang atau menyerang organisme lain. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut Musuh Alami. Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alami tidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. Hampir semua kelompok organisme berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata, nematoda, jasad renik, invertebrata diluar serangga. Kelompok musuh alami yang paling banyak adalah dari golongan serangga itu sendiri. Misalnya adalah Letmansia bicolor merupakan musuh alami dari serangga hama pada tanman kelapa Secava sp, Serangga kumbang Koksinelid ( Synkuharmonia octomaculata merupakan musuh alami dari hama tanman padi yaitu serangga wereng hijau, wereng punggung putih dan wereng zigzag (Sunarno,2008)
            Dilihat dari fungsinya musuh alami dapat dikelompokkan menjadi :
1.      Parasitoid
Merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang antropoda lainnya. Parasitoid bersifat parasit pada fase pradewasa, sedangkan dewasanya hidup bebas dan tidak terikat pada inangnya. Parasitoid hidup menumpang di luar atau didalam tubuh inangnya dengan cara menghisap cairan tubuh inangnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya . Umumnya parasitoid menyebabkan kematian pada inangnya secara perlahan-lahan dan parasitoid dapat menyerang setiap fase hidup serangga, meskipun serangga dewasa jarang terparasit.
2.      Predator
Predator adalah binatang atau serangga yang memangsa atau serangga lain Didaerah kepulaun Maluku pada umumnya dan khususnya daerah Kabupaten Halmahera Utara ada beberapa predator yang sangat efektif mengendaalikan hama Sexava yaitu burung Taun-taun dan juga burung Pata Bagai akan tetapi sekarang jarang untuk di temukan lagi. Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau memangsa atau serangga lain.
3.      Patogen
Golongan mikroorganisme atau jasad renik yang menyebabkan serangga sakit dan akhirnya mati. Patogen adalah salah satu faktor hayati yang turut serta dalam mempengaruhi dan menekan perkembangan serangga hama. Karena mikroorganisme ini dapat menyerang dan menyebabkan kematian serangga hama, maka patogen disebut sebagai salah satu musuh alami serangga hama selain predator dan parasitoid dan juga dimanfaatkan dalam kegiatan pengendalian. Beberapa patogen dalam kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi faktor mortalitas utama bagi populasi serangga tetapi ada banyak pathogen pengaruhnya kecil terhadap gejolak populasi serangga (Untung,2006).
Ciri-ciri penyerangan ulat kantong adalah daun akan melidi dan dapat menurunkan jumlah janjangan, dan dibutuhkan waktu yang lama  untuk normal kembali, hama harus dimonitor dengan sungguh-sungguh dan segera dikendalikan jika telah sampai masa kritis. Serangan ulat kantong ditandai dengan kenampakan tanaman tajuk tanaman yang kering seperti terbakar. Basri (1993) menunjukkan bahwa kehilangan daun dapat mencapai 46,6%. Tanaman pada semua umur rentan terhadap serangan ulat kantong, tetapi lebih cenderung berbahaya terjadi pada tanaman dengan umur lebih dari 8 tahun. Keadaan ini mungkin ditimbulkan dari kemudahan penyebaran ulat kantong pada tanaman yang lebih tua karena antar pelepah daun saling bersinggungan (Sdjoehana,1991).

DAFTAR PUSTAKA

Anggraitoningsih,Woro.2012 Potensi Dan Pengendalian Serangga Hama Kelapa Sawit di Lampung. Diakses dari: http://pkpp.ristek.go.id/_assets/upload/feval/I_24_Presentasi_Evaluasi.pdf [22 Maret 2016]

Djafaruddin.1996.Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman (Umum).Bumi Aksara: Jakarta

Embriani.2014.Serangga Herbivora Belalang Kembara (Locusta migratoria). Diakses dari: http://ditjenbun.pertanian.go.id/bbpptpsurabaya/tinymcpuk/gambar/file/kembara.pdf [22 Maret 2016]

Fauzi, Y., et al., 2008, Kelapa sawit Budi Daya Pemanfaatan Hasil & Limbah Analisis Usaha & Pemasaran. Edisi Revisi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Marheni.2016.Penuntun Praktikum Dasar Perlindungan Tanaman Sub Hama. USU Press: Medan.

Ramlah,Ali,S.A.dkk.2007.Sistem Pengurusan Perosak Bersepadu bagi Kawalan Ulat Bungkus di Ladang Sawit.MBOP Press

Rozziansha,Perdana, dkk. 2011. Organisme Pengganggu Tanaman Mahesenna corbetti Tams (Lepidoptera:Psychidae). Diakses dari: http://iopri.org/jdownloads/OPT%20Info/Hama/mahasena_corbetti.pdf [22 Maret 2016]

Sdjoehana. 1991. Budidya kelapa sawit. Penerbit Kanisius, 62 hal, Yogyakarta

Sudharto. 1990. Hama Kelapa Sawit. PPM Marihat, Marihat Pematang Siantar.

Sugito,J,1992.Kelapa Sawit.Penebar Swadaya.Jakarta

Sunarno.2008. PENGENDALIAN HAYATI ( Biologi Control ) SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN PENGENDALIAN HAMA TERPADU (PHT). Diakses dari: http://journal.uniera.ac.id/pdf_repository/juniera31-uHIhqLaBkzzrDBMOhRadqxY8H.pdf [22 Maret 2016]

Susanto, A., Purba, R Y & Prasetyo, A E. 2010. Hama dan Penyakit Kelapa Sawit Volume 1. PPKS Press,Medan

Tobing,Maryani Cyccu.2009.Keanekaragaman Hayati Dan Pengelolaan Serangan Hama Dalam Agroekosistem.USU Press:Medan. Diakses dari : http://usupress.usu.ac.id/files/Pidato%20Pengukuhan%20Guru%20Besar_M%20Cyccu%20Tobing_Final_Norma.pdf [22 Maret 2016]
Untung.2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu.UGM Press. Yogyakarta


Wood B.J.(1968. Pests Of Oil Palms in Malaysia And Their Control.Incorporated Society of Planters.Kuala Lumpur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar